Memuat...
Memuat...

UMKM-ML-2026-0041
“Karya Tangan Cerita dari Hutan, Anyaman Perempuan Punan.”
Tingginya potensi penganyam kerajinan rotan di Desa Metut didukung oleh ketersediaan bahan baku rotan yang melimpah di hutan wilayah mereka. Keterampilan menganyam yang dimiliki perempuan Dayak Punan, dengan karakter anyaman yang rapat, halus, dan rapi, memungkinkan pengembangan beragam produk kerajinan bernilai guna dan estetika. Produk yang telah dihasilkan antara lain bando rotan, gelang, kalung, cincin, gantungan kunci, tas rotan, anjat, padupadan tas kulit, topi, serta berbagai produk kerajinan lainnya. Keberagaman produk dan keterampilan yang telah dimiliki menjadi modal penting untuk pengembangan usaha kerajinan rotan di Desa Metut.
Cerita
“Kerajinan Anyaman Rotan Dayak, Si Cantik dari Hati Hutan Kalimantan,” tentang keindahan, ketekunan, dan warisan budaya. Di balik eloknya pola dan kuatnya simpul anyaman rotan Dayak Punan, tersembunyi kisah perjuangan dan cinta yang tak ternilai. Setiap helai rotan yang tertata rapi bukan sekadar hasil keterampilan, ia adalah simbol kekuatan, kebersamaan, dan ketekunan para ibu dari pedalaman hutan Kalimantan. Dari desa-desa kecil di tengah rimba, ibu-ibu Dayak Punan melangkah menyusuri hutan tanpa jalan setapak, menebas belukar, dan mencari rotan berduri yang tersembunyi dalam pelukan alam. Butuh tenaga dari empat hingga lima orang untuk menarik satu batang rotan, sebuah kerja sama yang dilandasi semangat dan tradisi. Setelah berhasil membawa pulang rotan berduri, dimulailah tahap demi tahap penuh ketelitian: membersihkan kulit ari, membelah, meraut hingga menghasilkan helai rotan tipis dan halus. Semua dikerjakan secara manual, hanya dengan pisau dapur, tutup kaleng, dan alat sederhana lain yang mereka modifikasi sendiri. Luka di telapak tangan menjadi saksi bisu dari dedikasi yang tulus. Beberapa rotan bahkan melalui proses pewarnaan alami selama tiga hari penuh—dimasak dengan tanah rawa dan daun mekepih—hingga menghasilkan warna hitam yang khas dan elegan. Namun tak ada keluhan, hanya tawa dan semangat yang terus menyala. Karena bagi para ibu Dayak Punan, setiap anyaman adalah cara menjaga warisan, menyambung budaya, dan mempersembahkan keindahan dari jantung hutan untuk dunia. Anyaman rotan cantik dari Dayak Punan lebih dari sekadar kerajinan tangan, ini adalah cerita tentang alam, tradisi, dan keteguhan perempuan penjaga budaya.
Tas Selempang
Sebelum menyilang di bahumu, tas selempang ini dulunya rotan liar berduri yang berasal dari pelukan hutan. Diraut helai demi helai dengan tangan, dianyam dengan pola yang beragam. Kini ia siap menemani langkahmu, membawa serpihan kisah hutan Kalimantan.
Anjat
Anjat dulunya adalah "rekan kerja" masyarakat Dayak yang dipanggul ke ladang, dibawa ke hutan. Anjat ini lahir dari perjalanan panjang jauh sebelum ia menjadi ransel yang kau panggul. Ibu-ibu Dayak Punan menyusuri rimba tanpa jalan setapak, menebas belukar, dan menarik rotan berduri. Setiap helai dibersihkan, dibelah, dan diraut bermodalkan telapak tangan yang menjadi saksi bisu ketekunan mereka. Anjat kini siap memanggul cerita itu, dari jantung hutan Kalimantan, ke pundakmu..
Desa Metut, RT 3, Malinau Selatan Hulu, Metut